TAUSYIAH TENTANG ILMU

28 05 2010

Mutiara Al Hikmah

Al Khalil ibnu Ahmad mengatakan bahwa terkait dengan ilmu , manusia itu terbagi menjadi empat: Pertama orang yang tahu dan tahu bahwa dirinya tahu. Dialah orang yang alim, maka ikutilah dia. Kedua, orang yang tahu, tapi dia tidak tahu bahwa dirinya tahu. Dia itu sedang tidur, maka bangunkanlah ia. Ketiga, orang yang tidak tahu dan tahu  bahwa dirinya tidak tahu. Dia  itu orang yang jahil, maka ajarilah ia. Keempat, orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.Inilah orang yang sesat, maka tolaklah ia. Empat hal yang telah disebut tadi merupakan empat tingkatan ilmu.





TAUSYIAH TENTANG HIDUP

28 05 2010

Enam persoalan hidup yang diungkapkan oleh Imam Al Ghazali antara lain, yang paling dekat dengan kita yaitu”mati”, yang paling jauh dari kita yaitu “masa lalu”, yang paling besar di dunia ini yaitu”nafsu”, yang paling berat di dunia ini yaitu”memegang amanah”, yang paling ringan di dunia ini yaitu”meninggalkan shalat”, dan yang paling tajam di dunia ini yaitu “lidah manusia”.

SATU LANGKAH

“hidup sukses bukan ditempuh dengan usaha satu langkah. Kita harus melakukan perjalanan panjang yang ditempuh selangkah demi selangkah. Setiap langkah dengan tersenyum. Setiap senyum adalah modal untuk langkah berikutnya”

KEPUTUSAN

“Tak ada satu orang hebatpun di dunia ini yang bisa bertindak untuk kamu. Pilihan ada pada diri kamu sendiri. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu inginkan , asal.. buatlah keputusan untuk kamu sendiri”

KEMENANGAN

“kemenangan bukan ditentukan oleh banyaknya tepuk tangan dan karangan bunga. Tetapi sangat ditentukan oleh sikap tetap menang walaupun dalam kekalahan”

PENGEMBARAAN

“Pengembaraan tanpa tujuan sering dialami setiap orang. Keliahatannya sibuk, tetapi samapi tua tidak mencapai tujuan”

BERANI GAGAL

“salah satu cara untuk tidak membuat kegagalan di masa sekarang dan masa yang akan datang adalah  jangan membuat keputusan sama sekali. Tetapi, apalah artinya hidup jika tidak berani membuat keputusan”

TUJUAN HIDUP

“Bumi ini diciptakan bukan untuk manusia yang tak punya tujuan. Hidup tidak diciptakan untuk permainan, tetapi untuk perjuanagn. Putuskan sekarang apa yang kamu inginkan dari hidup, Kawan”

PEMIMPIN

“setiap orang adalah pemimpin dirinya sendiri. Nahkoda kapal yang memmimpin kita, jangan dimusnahkan oleh kekurangyakinan dan kekurangtahuan tentang diri sendiri. Kita mempunyai hak penuh untuk memimpin diri sendiri”

HALANGAN

“Hasrat yang kuat akan menyingkirkan dan langsung melewati halangan dengan mengucap,”maaf halangan, kau kulewati”. Kalau ada kekalahan, kita hanya perlu menambahkan semangat dan bertahan. Sudah pasti, manang!”

BERLOMBA

“Kunci hidup sukses, adalah kemampuan sikap untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Bertindaklah dengan kebaikan, tapi jangan merasa diri paling baik ”

RENCANA

“Rencana yang baik akan meluruskan jalan dan menyingkirkan segala kebetulan. Perencaaan akan menghilangkan kebiasaan hidup semrawut. Perencanaan tepat akan mengarahkanmu langsung ke sasaran ”

KEMUDAHAN

“Setiap kesulitan ada kemudahan. Setiap kesulitan ada kemudahan. Satu kesulitan diapit dengan dua kemudahan. Masalahnya, dalam manajemen, kenapa orang tidak benyak mengalami kemudahan? Jawabannya, karena kebanyakan orang tidak berani menghadapi kesulitan”

KEYAKINAN

“ Hilangkan keyakinan yang salah, yaitu keyakinan bahwa kita hanya mampu sampai disini dan tak bisa lebih jauh lagi. Dan apabila kita tidak punya keyakinan yang lebih besar, dikhawatirkan kita termasuk orang-orang yang kurang mensyukuri kemahasempurnaan Allah dalam pencipta makhluk-Nya”

BENAR

“Benar itu tidak hanya satu. Maka jangan takut dan minder dengan kebenaran orang lain. Tapi yang penting, jangan merasa kita paling benar. Sebab, kalau demikian, kita sudah mengarah pada kesalahan”





Sanksi meninggalkan Shalat

27 05 2010

Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa menjaga shalat, niscaya di muliakan oleh Allah dengan lima kemuliaan” :

  1. Allah menghilangkan kesempitan hidupnya
  2. Allah hilangkan siksa kubur darinya
  3. Allah akan memberikan buku catatan amalnya dengan tangan kanannya
  4. Dia akan melewati jembatan (Shirat) bagaikan kilat
  5. Akan masuk syurga tanpa hisab

Dan barangsiapa yang menyepelekan shalat, niscaya Allah akan mengazabnya dengan lima belas siksaan ; enam siksa di dunia, tiga siksaan ketika mati, tiga siksaan ketika masuk liang kubur dan tiga siksaan ketika bertemu dengan Tuhannya (akhirat).

Adapun siksa di dunia adalah :

  1. Dicabut keberkahan umurnya
  2. Dihapus tanda orang saleh dari wajahnya
  3. Setiap amal yang dikerjakan, tidak diberi pahala oleh Allah
  4. Tidak diterima do’anya
  5. Tidak termasuk bagian dari do’anya orang-orang saleh
  6. Keluar ruhnya (mati) tanpa membawa iman

Adapun siksa ketika akan mati :

  1. Mati dalam keadaan hina
  2. Mati dalam keadaan lapar
  3. Mati dalam keadaan haus, yang seandainya diberikan semua air laut tidak akan menghilangkan rasa hausnya

Adapun siksa kubur :

  1. Allah menyempitkan liang kuburnya sehingga bersilang tulang rusuknya
  2. Tubuhnya dipanggang di atas bara api siang dan malam
  3. Dalam kuburnya terdapat ular yang bernama Suja’ul Aqro’ yang akan menerkamnya karena menyia-nyiakan shalat. Ular itu akan menyiksanya, yang lamanya sesuai dengan waktu shalat

Adapun siksa yang menimpanya waktu bertemu dengan Tuhan:

  1. Apabila langit telah terbuka, maka malaikat datang kepadanya dengan membawa rantai. Panjang rantai tsb. tujuh hasta. Rantai itu digantungkan ke leher orang tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya dan keluar dari duburnya. Lalu malaikat mengumumkan : ‘Ini adalah balasan orang yang menyepelekan perintah Allah’. Ibnu Abbas r.a berkata, ‘seandainya lingkaran rantai itu jatuh ke bumi pasti dapat membakar bumi’.
  2. Allah tidak memandangnya dengan pandangan kasih sayang-Nya Allah tidak mensucikannya dan baginya siksa yang pedih.

Menjadi hitam pada hari kiamat wajah orang yang meninggalkan shalat, dan sesungguhnya dalam neraka Jahannam terdapat jurang yang disebut “Lam-lam”. Di dalamnya terdapat banyak ular, setiap ular itu sebesar leher unta, panjangnya sepanjang perjalanan sebulan. Ular itu menyengat orang yang meninggalkan shalat sampai mendidih bisanya dalam tubuh orang itu selama tujuh puluh tahun kemudian membusuk dagingnya.





Jangan Pernah Berhenti, Sebelum Hidup Kita Punya Arti

27 05 2010

LELAKI ANDALUS DAN SEEKOR GAJAH….

Nama lelaki itu mudah dikenal, Yahya ibnu Yahya. Nunjauh dari Andalusia ia berasal. ia pergi menuntut ilmu ke Madinah. Berguru pada Imam Malik. Andalusia – Madinah adalah jarak yang teramat jauh. Terlebih dengan sarana transportasi apa adanya pada masa itu.Tetapi Yahya Ibnu Yahya adalah salah satu contoh terbaik tentang bagaimana kehendak seorang muslim untuk TIDAK BERHENTI MENJADI BERARTI.

Hari –hari menimba ilmu pun ia lalui di madinah yang tenang. Di hadapan sang guru Imam Malik. Hingga suatu hari,, saat tengah berada di majelis bersama rombongan orang-orang entah darimana. Mereka datang sambil membawa gajah.

Para murid-murid Imam malik berhamburan keluar ingin melihat gajah. Di jazirah Arab, makhluk besar berbelalai itu saat itu memang tergolong asing. Maka orang-orang pun keluar ingin melihat lebih dekat. Begitupun murid-murid Imam Malik.

Semua beranjak, kecuali Yahya bin Yahya. Hingga semua keluar Yahya tetap duduk di majelis itu. Melihat itu Imam Malik mendekat,”Mengapa engkau tidak keluar juga untuk melihat gajah?”tanya Imam Malik. Yahya menjawab,”Aku jauh-jauh datang dari andalusia untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah”. Imam Malik sangat kagum dengan keteguahan Yahya. Setelah itu Imam Malik pun menggelarinya dengan ’aqilu Andalus’(lelaki berakal dari Andalusia).

MARI KITA BERKACA…….

Betapa sering perjalanan hidup kita terhenti. Bahkan oleh hal-hal yang tidak serius. Betapa banyak orang berhenti dari mengejar cita-cita, kehendak mulia, mimpi-mimpi fantastis, hanya karena keteledoran, menyimpang yang mulanya hanya iseng, atau karena ulau mental ’nanti dulu’. Akhirnya lama kelamaan jiwanya mulai layu, semangatnya mulai redup. Gairah berkaryanya mulai kering. Akhirnya iapun terhenti dari segala harapan yang telah menanti diujung kerja kerasnya.

Begitulah seorang muslim semestinya menata jalan cita-citanya. Semua orang punya harapan, jauh atau dekat, tinggi atau rendah. Tetapi menjadi seorang muslim yang tak mengenal kata henti dalam berjalan, berusaha, berkarya,adalah pilihan keimanan untuk tujuan nun jauh diakhirat sana. Sebab diatas arah jalan itu hidup seorang muslim menjadi punya arti.

SEDIKIT  HIKMAH UNTUK SEBUAH MOTIVASI……

Menjadi mahasiswa, sudahkah membuat hidupmu punya arti?

Keberartian tidak diperoleh dalam waktu yang singkat. Tidak pula dengan usaha yang setengah-setengah. Orang-orang besar di dalam tarikh umat Islam yang gemilang, menjadi besar karena mereka tidak pernah lelah menabung untuk investasi keberartiannya, hari demi hari, waktu demi waktu, detik demi detik.

Imam Bukhari setiap malam bisa terbangun hingga dua puluh kali, untuk menuliskan hadits-hadits yang dihapalnya. Ia tidak pernah berhenti untuk menjadi berarti. Maka ia memetik jerih payah itu. ia menjadi maha guru ahli hadits sepanjang masa.

Imam Nawawi. Bila seluruh usianya dibagi dengan karya tulisnya, maka setiap hari ia telah menulis tidak kurang dari enam belas halaman manuskrip. Bila diurai menjadi buku-buku masa kini, setiap halaman manuskrip itu bisa menjadi berlembar-lembar halaman.

Ibnu Hajar Al- Asqalani, ulama besar pengurai Shahih Bukhari, ia menghabiskan seperempat abad usianya untuk mennuliskarya monumentalnya, Fathul Bari.

DESTINY FIRST, OTHER LATER…..

Begitulah orang-orang besar menjadi besar karena ia tidak pernah berhenti menginvestasikan untuk dirinya karya kebajikan. Sebagaimana orang-orang jahat, akan terkenang sepanjang masa, karena ia juga menginvestasikan untuk dirinya kekejian dan kemaksiatan.

Sepanjang perjalanan, sejak kita beranjak dewasa, sejujurnya kita telah mengerti apa itu tujuan akhir, cita-cita puncak. Tetapi tak jarang kita terhempas, kita terlena, dan kemudian berhenti di tengah jalan Tidak, kita harus terus mengejar. Jangan berjenti. Jangan pernah berhenti sebelum hidup kita punya arti.






Jika Hidup Tidak untuk Dakwah

27 05 2010

Jika Hidup Tidak untuk Dakwah

Terus engkau mau ngapain?
Ente pergi pagi
Dengan semangat  mencari duniawi
Jika angkot  macet, langsung berganti sewa taksi
Agar harta buruan tidak beralih dari sisi

Ente pulang malam
Dengan jasad yang kelelahan
Nyampe di rumah mendekam sampai pagi datang

Lupakah engkau
Rasulullah saw bagaikan rahib di malam hari
Dan menjadi singa di siang hari
Sementara kamu
Tak peduli siang tak peduli malam
Yang penting dunia dalam genggaman

Sahabat cobalah engkau renungkan
Apa sih yang ingin kugapai sampai harus membanting tulang
Apa sih yang ingin kubangun hingga pagi datang
Apa sih yang ingin kuraih hingga tubuh begitu letih
Jujur saja, untuk urusan perutmu bukan
Buat beli martabak atau nasi
Masuk perut dan kemudian raib menjadi kotoran

Jujur saja, untuk urusan rumah tempat kau tinggal bukan
Buat beli keramik, AC ataupun bisa
Dinikmati, rusak, ganti lagi tak berkesudahan

Jujur saja, untuk urusan kesenangan anak-anak yang kau rindukan bukan
Buat pakaian, mainan, ataupun poster-poster idaman
Dinikmati, menghilang dari pandangan

Jika engkau hidup hanya untuk itu semuanya
Maka harga dirimu
Nilainya sama dengan apa yang kamu makan
Nilainya sama dengan apa yang kamu keluarkan dari perut hitam
Nilainya sama dengan apa yang kamu rindukan

Karena jasadmu tak ubahnya tembolok karung
Tempat penyimpanan semua makan yang kamu makan
Karena jasadmu tak ubahnya perekat
Tempat semua kesenangan dunia melekat

Sepekan, setahun, sewindu kau bangun sejuta pundi uang
Engkau lupa bahwa kelak yang kau bangun itu pasti kau tinggalkan
Engkau lupa bahwa tempat tinggalmu sesudahnya adalah istana masa depan

Tapi sahabat
Jika engkau hidup untuk dakwah
Tidak ada setitik harapan pun yang kelak dirugikan
Tiada seberkas amal pun yang tiada mendapat balasan

Tapi di dalamnya penuh ujian dan batu karang
Dan engkau harus yakin penuh akan janji Allah
Tapi di dalamnya tidak lekas kau dapatkan keindahan
Dan engkau harus yakin bahwa inilah jalan kebaikan

Sahabat
Janganlah terlena dengan kesenangan fana
Janganlah terlena dengan gemerlapnya dunia
Itulah yang  ﷲ  berikan sebagai  hak para musyrikin di dunia
Tiada usah kamu iri dan berpikir tuk hanyut bersamanya
Karena kau tahu kehidupan mereka sesudahnya adalah neraka
Dan mereka kekal di dalamnya

Sahabat
Jangan sia-siakan hidup di dunia
Bangun rumah dakwah
Jika kau diluaskan harta, kembalikan di jalan dakwah
Jika kau diluaskan waktu, hibahkan di jalan dakwah
Jika kau diluaskan tenaga, berikan untuk lapangnya jalan dakwah
Jika kau diluaskan pikiran, gunakan untuk merenungi ayat-ayat-Nya
Jika kau diluaskan usia, maksimalkan berikan yang terbaik untuk-Nya

Jangan jadikan dakwah sebagai kegiatan sampingan
Jangan jadikan dakwah sebagai hiburan
Jangan jadikan dakwah sebagai ajang gaul sesama teman
Jangan jadikan dakwah sebagai pengisi waktu luang
Jangan jadikan dakwah sebagai sarana memburu uang
Karena kelak yang kau dapatkan adalah jahanam
Sebagai balasan atas kemusyrikan yang kau jalankan

Sahabat
Jadikan dakwah sebagai ruh kalian di dunia
Jadikan dakwah sebagai rumah tinggal kalian di dunia
Jadikan dakwah sebagai tugas utama kalian di dunia
Jadikan bahwa hanya dengan dakwah diri kalian begitu bahagia
Jadikan bahwa tanpa dakwah kalian begitu menderita

Sahabat
Jalan dakwah inilah yang membedakan kita
Dengan para pendusta ayat-ayat-Nya
Dan jika engkau hidup di dunia ini tidak untuk tegakkan risalah-Nya

Itu artinya engkau pun sama dengan mereka
Yang lebih menyukai neraka ketimbang surga
Dan jika engkau hidup di dunia ini sebagai tujuan
Ingatlah bahwa tak lama lagi ruhmu bakal dicabut dari badan

Jika hidup tidak untuk dakwah
Trus ente mau ngapain?


Mau jadi ayam?
Yang pergi pagi pulang petang
Kurang petang tambahin nyampe tengah malam

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia  rutin bangun sebelum azan
Dan teriakkan lagu keindahan
Tapi kamu
Rutin subuh setengah delapan
Apalagi kalo akhir pekan
Bisa jadi subuh hengkang dari pikiran

Tapi masih mendingan ayam
Karena ia berani pilih makanan yang ia inginkan
Tapi kamu,
Kamu embat semua yang ada di hadapan
Tidak peduli daging, tumbuhan, ataupun

batu hitam
Sementara kamu dikaruniai pikiran

Semoga kita menjadikan da’wah sebagai jantung kehidupan

By. Agus Sujarwo





JIHAD

25 05 2010

Ketika memperhatikan jalannya pertempuran, Shafiyah melihat kaum muslimin terdesak hingga terpencar jauh dari Rasulullah. Hanya sedikit jumlah mereka yang tinggal bertahan bersama beliau. Sementara itu kaum musyrikin menyerbu dengan pesatnya, sehingga hampir tiba ke dekat Rasulullah dan mereka hampir membunuhnya. Secepat kilat  Shafiyah melemparkan tempat air yang dibawanya. Lalu dengan tangkas dia melompat bagaikan singa betina sedang melatih anaknya.    Direbutnya pedang seorang muslim yang lari ketakutan. Kemudian ia maju menyerang barisan musuh dengan pedang terhunus dan menebas setiap musuh yang berada di hadapannya. Dia berteriak kepada kaum muslimin, “Pengecut kalian! Mengapa kalian tinggalkan Rasulullah?” katanya. Ketika Nabi Muhammad Saw melihat Shafiyah maju ke tengah medan, beliau khawatir kalau Shafiyah tak kuat menahan sedih menemukan mayat saudaranya Hamzah bin Abdul Mutholib yang tewas di tengah medan. Lalu beliau memberi isyarat kepada Zubair, “Cegah ibumu Zubair …! Cegah ibumu …!” kata beliau memerintahkan Zubair menyuruh ibunya kembali. Zubair segera berpacu mengejar ibunya,

” Ibu…! Kembali …! Ibu… kembali…!” teriak Zubair memanggil ibunya.

” Pergi kau …! Tidak ada ibu – ibuan!” jawab Shafiyah

” Rasulullah memerintahkan ibu kembali …” kata Zubair pula.

” Mengapa? Aku mendengar mayat saudaraku dirusak binasakan mereka. Padahal saudaraku tewas fii sabilillah” kata Shafiyah.

” Biarkan ibumu Zubair! ” kata Rasulullah. Zubair membiarkan ibunya pergi. Ketika pertempuran telah usai, Shafiyah berdiri dekat mayat saudaranya. Didapatinya perut Hamzah terbelah. Jantungnya diambil orang. Hidung dan kupingnya sudah dipotong. Mukanya rusak tak dapat dikenali.

Menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, Shafiyah memohon ampun bagi Hamzah. Kemudian berkata :

” Dia tewas fii sabilillah. Aku ridha dengan keputusan Allah atasnya. Demi Allah! Aku akan tetap sabar dan menyerahkan semua ini kepada Allah serta memohonkan pahala untuknya…”.

Itulah peranan Shafiyah binti Abdul Mutholib dalam perang Uhud.

********************************************************************************************************

Beberapa waktu yang lalu ada kejadian yang mengejutkan banyak pihak. Pengiriman Putri Indonesia, Nadine Chandrawinata, mengikuti kontes ratu sejagad. Satu hal yang sangat menyakitkan adalah adanya foto yang —-(sensor). Dengan alasan untuk mengharumkan nama bangsa, wanita itu tetap bertahan dengan pendiriannya. Ikut Miss Universe. Bahkan dalam sebuah polling di Amerika, Nadine menduduki peringkat lima. Jadilah, ia semakin percaya diri dengan alasannya itu. Walhasil… peringkat sepuluh pun tak mampu diraihnya. Ya, sebenanrnya memang sejak dulu sudah ada kontroversi mengenai Miss Universe. Tapi permasalahannya adalah, dalam sejarah kepahlawanan Indonesia tidak ada seorang pahlawan wanita yang harum namanya dengan cara yang tidak terpuji. Adakan dalam sejarah RA Kartini, beliau melakukan hal seperti foto Nadine?.Justru yang ada sisi kepahlawanan wanita muncul di tengah ibu-ibu yang membiayai anak-anaknya dengan kekuatannya sendiri ditengah kemiskinan yang menghimpit. Atau sisi kepahlawanan muncul dari para ibu guru yang tulus mendidik muridnya, bukan?

Pada akhirnya, ketika berbicara mengharumkan nama bangsa maka tak lepas dari sosok para pahlawan. Salah satunya sosok pahlawan Islam, Shafiyah binti Abdul Mutholib. Banyak hal yang perlu dicatat dari fragmen diatas. Setidaknya terpancarnya nilai keberanian dari seorang wanita hingga berujung kepada ketegaran yang luar biasa. Begitu perkasanya seorang Shafiyah, hingga tak luput dari berbagai perang sampai wafat.

Sebenarnya bukan sisi fisik seorang Shafiyah yang diangkat menjadi sebuah keperkasaan. Tetapi munculnya ketegaran yang tinggi manakala harus berada dalam kondisi berseberangan. Dan pada akhirnya kita melihat nilai kepahlawanannya muncul dari sebuah keimanan yang dahsyat. Jadilah, ia wanita yang benar – benar perkasa dan mampu mengharumkan nama agama.

Akhirnya, seperti yang dikatakan Nadine ketika ditanya oleh wartawan perihal kekalahannya dalam ajang Miss Universe, ia pun menjawab: “Ada banyak cara untuk mengharumkan nama bangsa” (lho kok?). Ya benar, ada banyak cara mengharumkan nama bangsa tanpa harus menjual mahkota yang sangat 3x berharga. Mahal dan tak ternilai. Dan yang terpenting muncul dari sebuah keyakinan yang telah mengazam kuat dari pemahaman nilai – nilai keILLAHIAN. Karena itulah prestasi tertinggi dari seorang insan.





Sedikit tapi kontinu

24 05 2010

Tak ada kebahagiaan yang diperoleh secara mudah. Bahkan tingkat sulit dan mudahnya proses mencapai kebahagiaan, akan menjadi bagian penting yang menentukan kadar kebahagiaan yang kita peroleh. Ingat, semua manfaat takkan bisa datang kecuali dengan rasa lelah. Kenikmatan itu bahkan datang sesuai kadar kelelahan untuk memperolehnya. Begitupun kebahagiaan di akirat harus ditempuh dengan kelelahan dalam beramal dan kesulitan untuk meraihnya. Allah SWT menyebutkan bahwa untuk masuk surga sekalipun orang-orang yang beriman harus melalui proses ujian dan penyaringan. Seperti dijelaskan dalam surat Al Ankabut 1-4.

Kontinuitas dalam beramal memang sulit. Perlu pengorbanan, perlu kekuatan mujahadah (kesungguhan) melawan keinginan yang bisa mematahkan kontinuitas amal. Perlu kepasrahan dan ketundukan penuh pada Allah, untuk meraih suplai energi yang mampu mengalahkan rasa sombong dan ujub. Perlu kesabaran berlipat untuk bisa bertahan menjalani ragam tantangan dan halangan yang pasti dijumpai dalam memelihara kontinuitas amal. Tapi, itulah harga yang mesti dibayar untuk kenikmatan surga di akhirat. Bahkan bukan hanya di akhirat, sesungguhnya buah kontinuitas amal itu, meski sedikit, sudah bisa dipetik sejak di dunia.

Ada beberapa alasan mengapa amal yang sedikit tapi berkelanjutan jauh lebih baik daripada amal besar yang tidak berkelanjutan.

1. Sedikit tapi kontinu adalah indikasi keikhlasan.

Ibadah yang dilakukan hanya temporal, sewaktu-waktu, tidak kontinu, sesuai keadaan, adalah tanda keikhlasan yang belum sernpurna. Sebab umumnya aktivitas ibadah yang dilakukan tidak secara terus menerus lebih dimotivasi oleh kondisi lahir dan urusan duniawi. Pendekatan diri kepada Allah dilakukan ketika sedang butuh. Ketika sedang mengalami kesulitan, tertimpa musibah, diuji dengan kesempitan, kesusahan, ia meminta agar Allah menolong dan membantunya meringankan penderitaan, Tapi ketika semua kesulitan itu telah hilang, ia meninggalkan amal-amal ibadah yang sebelumnya dilakukan.

Perhatikan firman Allah swt yang artinya, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (dihilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Qs. Yunus: 12)

Berbeda dengan hamba Allah yang ikhlas, yang tetap istiqamah melakukan ibadah dan amal shalih. Saat diberi kesulitan ia duduk bersimpuh dan sujud memohon pertolongan Allah. Dan ketika diberi kelapangan ia akan semakin banyak bersyukur dan mendekat pada Allah yang melapangkan kehidupannya.

2. Sedikit tapi kontinu adalah mata air rasa nyaman.

Setiap kita memerlukan rasa nyaman, damai dan tenang. Itulah di antara buah istiqamah dalam kebaikan yang dilakukan. Amal shalih, apalagi yang dilakukan secara terus- menerus, meski sedikit akan menciptakan suasana damai dan tenang di dalam hati.

Rutinitas ibadah dalam berbagai bentuknya akan membina jiwa seseorang menjadi lebih dekat dengan Allah swt. Kontinuitas melakukan ibadah itulah yang membentuk jiwa menjadi seperti itu. Kebahagiaan dan kelezatan dalam hati orang-orang yang dekat dengan Allah tak bisa dirasakan kecuali oleh mereka yar,g merasakan kebahagiaan itu.

Lihatlah perkataan para salafushalih, “Kasihan sekali orang-orang yang lalai itu. Mereka keluar dari dunia tapi mereka belum merasakan puncak manisnya dunia.” Puncak manisnya dunia, bagi mereka ada pada kedamaian dan kenikmatan hidup bersama Allah swt.

Ada pula yang mengatakan, “Andai para raja dan para pangeran itu mengetahui  kenikmatan apa yang dirasakan oleh para ahli takwa, niscaya mereka akan berusaha merebut kenikmatan itu dengan pedang terhunus.” (Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim)

Ibnu Taimiyah saat di dalam penjara justru merasakan kenikmatan ujian itu. Dalam sebuah surat kepada murid-muridnya ia menulis, “Kami Alhamdulillah dan syukur pada Allah, berada dalam kenikmatan agung yang setiap hari terus bertambah. Allah memperbarui nikmat-Nya demi nikmatnya yang lain. Saya dalam keadaan baik. Kedua mata saya bahkan lebih baik dari sebelumnya. Kami berada dalam nikmat yang sangat besar, yang tak mampu dihitung dan dihisab.”

3. Sedikit tapi kontinu adalah strategi.

Perbuatan manusia itu memiliki beberapa tingkatan. Ada perbuatan yang paling mulia dan dicintai oleh Allah swt, daripada perbuatan lainnya. Allah swt berfirman, “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada o-rang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang dzalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Qs. at-Taubah: 19-20)

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa iman itu memiliki enam puluh lebih cabang – atau tujuh puluh lebih – yang paling tinggi adalah Laa ilaaha illa Allah, dan yang paling  rendah ialah menyingkirkan penghalang yang ada di jalan.” Hal ini menunjukkan bahwa jenjang iman itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya.

Amir Asya’bi seorang tabiin menceritakan bahwa suatu ketika beberapa orang keluar dari Kufah dan menyepi untuk melakukan ibadah. Kemudian Abdullah bin Mas’ud diberitahu tentang keadaan mereka. Ibnu Mas’ud mendatangi mereka dan mereka sangat gembira dengan kedatangan Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud bertanya, “Apa yang membuat kalian melakukan hal ini?” Mereka mengatakan, “Kami ingin keluar dari keramaian manusia dan melakukan ibadah.” Ibnu Mas’ud berkata, ”Kalau seandainya manusia melakukan semuanya seperti apa yang kalian lakukan, siapa yang akan berperang melawan musuh?”

Menurut Ibnul Qayyim, orang yang dikatakan sangat pemberani adalah orang yang langsung berhadapan musuh dengan senjata-nya. Posisinya di barisan pejuang satu jam dan jihadnya melawan musuh musuh Allah itu lebih baik dari haji, puasa dan shadaqah. Orang yang mengetahui sunnah, hukum halal haram, jalan kebaikan dan keburukan, kemudian ia tetap berbaur dengan manusia mengajarkan mereka dan menasihati mereka tentang Islam itu lebih baik daripada ia sendiri melakukan sholat dan menghabiskan waktu untuk membaca Al Quran dan tasbih.

4. Sedikit tapi kontinu adalah bahan bakar utama.

Orang yang ingin mencari ridha Allah dan memperoleh kebahagiaan akhirat, dan bahkan setiap orang yang pergi mencapai tujuannya tidak akan tercapai kepada tujuannya kecuali dengan dua kekuatan: yakni kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Demikian ujar Ibnul Qayyim rahimahullah. Kekuatan ilmu akan menerangkan jalan dan memposisikan pelakunya agar sampai pada tujuannya, terhindar dari bahaya dan tempat-tempat yang terlarang, atau menjadikannya tersesat. Sedangkan kekuatan amal adalah kekuatan untuk istiqamah dan tetap berupaya melanjutkan perjalanan. Upaya untuk bisa bertahan dan istiqamah melanjutkan perjalanan, adalah dengan mengetahui dan memanfaatkan kemudahan yang diberikan Allah dalam beribadah.

Maka, kita harus berupayakan sekuat daya untuk meningkatkan amal perbuatan setiap saat. Berkomitmen pada jalan kebaikan. Sikap berlebihan dan pemaksaan diri dalam melakukan amal, tak jarang dapat mengeluarkan seseorang dari jalur yang benar akibat diterpa kejenuhan dan rasa bosan.

Dengarkan cerita Buraidah yang suatu ketika pergi keluar rumah untuk sebuah keperluan. Kebetulan saat itu ia bertemu dengan Rasulullah dan berjalan bersamanya. “Dia menggandeng tangan saya, dan kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan kami ada seorang lelaki yang memperpanjang ruku’ dan sujudnya. Nabi saw bertanya, “Apakah kamu melihat bahwa orang itu melakukan riya?”, Abu berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau melepaskan tanganku, dan membetulkan kedua tangan orang itu dan mengangkatnya sambil bersabda, “Ikutilah petunjuk yang pertengahan..” (Disebutkan oleh al-Haitsami dan Ahmad dalam Majma Zawaid, 1: 62).

Amal yang kontinu pasti berat dilakukan. Tapi, itu biasanya terjadi hanya pada awalnya saja. Ibarat memutar sebuah roda. Terasa berat hanya pada awal putaran. Tapi pada putaran kedua dan ketiga-nya, roda itu akan lebih mudah diputar. Demi-kian juga dengan kondisi jiwa manusia. Wallahu’alam.

Allah tempat bergantung

Ya Allah, peliharalah aku dengan Islam ketika aku berdiri. Peliharalah aku dengan Islam ketika aku duduk. Peliharalah aku dengan Islam ketika aku terbaring. Jangan gembirakan orang yang memusuhiku dan yang menyimpan dengki kepadaku. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua simpanan kebaikan yang ada di Tangan-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh simpanan kejahatan yang ada di Tangan-Mu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, I/525)

Ini adalah do’a yang diucapkan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab ra. Kelihatannya sederhana. Meminta perlindungan Allah swt dari segala sisi. Memohon semua kebaikan dan menolak semua kejahatan. Tapi, curahan kata-kata itu begitu mencakup seluruh bentuk tameng perlindungan yang harus dipintakan seorang hamba kepada Allah swt.

Tapi, pernahkah kita merasakan begitu sulitnya merangkai kata dan kalimat dalam sebuah pinta kepada pemilik sifat Ash Shamad, Tempat Meminta. Pernahkah kita merasakan kesulitan merangkum permohonan dan menumpahkannya dalam do’a kepada Yang Maha Kaya. Bukan karena kita yang tidak pandai menyusun kata, karena do’a memang tidak harus dibumbui dengan kata-kata puitis yang justru menjadi semakin sulit dipahami. Masalahnya, lidah terasa kelu untuk meminta, dan jiwa sulit sekali dipertemukan dengan bait-bait kata yang menyimpan permohonan sangat dan menyeluruh kepada Allah swt, Yang Maha Kuasa atas segalanya.

Saudaraku,… Tahukah apa rahasia di balik keindahan do’a dan kesempurnaan munajat yang diucapkan oleh orang-orang shalih? Sesungguhnya untaian kata dalam do’a, adalah ekspresi dari kedalaman perasaan mereka terhadap apa yang mereka pintakan kepada Allah swt. Rasa begitu bergantung dan bersandar pada ke Maha Kuasa dan ke Maha Besaran Allah swt sehingga menjadikan mereka bertenaga dalam mengungkapkan harapannya kepada Allah swt sebagai satu-satunya tempat meminta.

Begitulah, untaian kata dan hubungannya dengan letupan serta gelora yang ada dalam jiwa. Rasulullah saw dan para sahabatnya, yang memiliki tingkat ketawakkalan sangat tinggi kepada Allah swt, begitu indah mengungkapkan kata demi kata yang mencakup harapannya kepada Allah swt. Para hamba-hamba Allah swt yang shalih itu, mempunyai keyakinan dan iman yang menyala-nyala dalam batinnya, hingga mereka begitu nikmat mengeluarkan rangkaian kata untuk memohon kepada Allah swt secara menyeluruh. Mereka begitu memiliki kedekatan yang intim kepada Allah swt dalam hari-harinya, lalu mereka begitu mudah berinteraksi, berbicara, berdialog, meminta, memohon, bermunajat, berkeluh, bercerita, kepada-Nya.

Saudaraku… Mari perhatikan lagi, bagaimana bunyi salah satu do’a yang dipanjatkan Rasulullah saw seperti disampaikan oleh Abdullah bin Umar ra. Ia mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan untaian do’a ini ketika pagi dan sore: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku dan hartaku. Ya Allah, tutuplah auratku. Lindungilah ketakutanku. Ya Allah peliharalah aku dari hadapanku, dari belakangku, dari sisi kananku, dari sisi kiriku, dari atasku. Aku berlindung dengan keagunganMu diserang dari bawahku.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Saudaraku… Seperti itulah permohonan yang dipanjatkan Rasulullah saw. Mohon agar perlindungan Allah swt selalu menyertainya dari semua sudut, dari semua sisi, tanpa celah dan lubang yang tersisa, dan di setiap waktu. Meminta agar Allah swt tak pernah membiarkannya menjadi incaran dan korban semua kejahatan dari makhluk-makhluk-Nya. Sungguh-sungguh memanjatkan harapan agar Allah swt menyelamatkan agama, dunia dan akhiratnya, menutupi kekurangannya, membentengi ketakutannya.

Pernahkah kita begitu bergantung kepada Allah swt hingga memanjatkan do’a yang sangat menyeluruh seperti ini? Muatan sebuah do’a benar-benar merupakan pantulan dari ketergantungan seseorang yang begitu tinggi kepada Allah swt. Dan seperti itulah jiwa Rasulullah saw, para sahabatnya juga para orang-orang shalih. Hingga ketergantungan yang demikian besar itu, seorang shalih dahulu, pernah menuliskan surat kepada saudaranya begitu singkat. Katanya, “Wa ba’du. Jika Allah swt bersamamu, siapa lagi yang engkau takuti?? Tapi jika Allah swt meninggalkanmu, kepada siapa engkau meminta?? Wassalam”.

Merenunglah di sini,… Tentang ketergantungan kita kepada Yang Maha Kuat. Tentang nyala keimanan dan keyakinan kita kepada Penguasa Kehidupan. Tentang kedekatan dan keintiman kita kepada Pencipta Kehidupan ….

Semakin kita memiliki anasir ketergantungan yang kuat kepada Allah swt seperti itu, kita akan lebih mudah mengucapkan untaian kata permohonan kepada Allah swt. Dan lidah kita, semoga tidak lagi begitu kelu mengutarakan munajat kepada-Nya. Kita semakin merasakan kenikmatan saat meminta dan bersandar kepada Al Qadiir, Yang Maha Kuasa…

Saudaraku… Soal penanaman nilai ketergantungan kepada Allah swt, dilakukan oleh Rasulullah saw kepada sahabatnya dengan begitu kuat. Diriwayatkan, Rasulullah saw, pernah membai’at para sahabatnya untuk tidak meminta kepada sesama manusia atas keperluan apapun. Mereka yang dibai’at ketika itu adalah Abu Bakar Shiddiq, Abu Dzar, Tsauban, dan beberapa orang lainnya, radhiallahu anhum. Disebutkan dalam sirah, orang-orang yang dibai’at Rasulullah itu kemudian tidak pernah meminta tolong kepada orang lain. Jika tali kekang atau kendali untanya jatuh, ia akan turun dan mengambilnya sendiri dan tidak meminta tolong orang lain untuk mengambilkannya.” (HR. Muslim)

Itulah tawakkal,… Ketergantungan yang menjadikan seseorang tahu bahwa dirinya hanya bersandar dan berharap kepada-Nya. Lalu secara otomatis sangat memelihara diri dari penyimpangan yang bisa menjadi indikasi keterlepasannya dari ketergantungannya pada Allah swt. Dan Allah swt pasti menjaga hamba-hamba-Nya yang sangat bergantung kepada-Nya. Wallahu’lam.