Hindari debat, niatlah yang baik dan berbahasalah yang bijak !!!

2 12 2009

Hidayatullah. com+edit oleh penulis

Salah satu tontonan terbanyak di TV kita saat ini selain ghibah (gossip, red) adalah berdebat. Anggota DPR berdebat dengan LSM, Polisi berdebat dengan pengacara, dan beberapa pihal lain.

Akibat berdebat, baru-baru ini seorang pengacara ternama hampir saja berduel. Gara-gara berdebat pula, tahun 2003, Menteri Tenaga Kerja danTransmigrasi Jacob Nuwa Wea “menyerang” dan memukul kepala koordinator ICW Danang Widyoko di sebuah acara Today’s Dialog di Metro TV. Tak hanya memukul, sang menteri juga dinilai menghina Danang dengan kata-kata.

Islam mengenal istilah jidal. Para ulama menafsirkannya dengan perdebatan dalam hal-hal yang tidak berguna atau tidak bermanfaat. Jidal adalah termasuk dalam perdebatan yang dilarang adalah semua
perdebatan yang menyebabkan kegaduhan, mudharat kepada orang lain atau mengurangi ketentraman. Sementara perdebatan yang baik dan masih diperbolehkan adalah perdebatan untuk menjelaskan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan
Muslim [2668]).

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata: “Rasulullah saw .bersabda, “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena mereka gemar berdebat. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58).” (Hasan, HR Tirmidzi [3253], Ibnu Majah [48], Ahmad [V/252-256], dan Hakim [II/447-448] ).

Diriwayatkan dari Abu Ustman an-Nahdi, dalam sebuah hadist lain, ia berkata, “Aku duduk di bawah mimbar Umar, saat itu beliau sedang menyampaikan khutbah kepada manusia. Ia berkata dalam khutbahnya, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, perkara yang sangat
aku takutkan atas ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah’.” [HR Ahmad]

Kerap dijumpai di tengah masyarakat, peristiwa yang berakhir saling bunuh atau saling membinasakan. Jika ditelisik lebih jauh, kejadian tersebut bermula dari cekcok dan salah paham. Ini menjadi indikasi
bahwa lidah memiliki bahaya besar bila tak dijaga.

Berikut beberapa adab terkait dengan urusan lidah atau bercakap.Islam adalah agama yang sangat rapi mengatur umatnya. Terhadap hal-hal sekecil apapun, Allah SWT sudah mengatur. Dalam Islam, berbicara, berbahasa dan bercakap-cakap harus punya adab dan sopan-santun nya. Di bawah ini adalah adab-adab berbicara dalam Islam yang harus menjadi pegangan kita.

Adab Bercakap

1. Ucapan Bermanfaat

Dalam kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak bercakap dengan orang lain. Mengucapkan sesuatu yang baik atau memilih diam. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) bersabda, “Barang siapa mengaku beriman kepada Allah dan hari Pembalasan hendaknya ia
berkata yang baik atau memilih diam.” (Riwayat al-Bukhari).

2. Bernilai Sedekah

“Setiap tulang itu memiliki kewajiban bersedekah setiap hari. Di antaranya, memberikan boncengan kepada orang lain di atas kendaraannya, membantu mengangkatkan barang orang lain ke atas
tunggangannya, atau sepotong kalimat yang diucapkan dengan baik dan santun.” (Riwayat al-Bukhari).

3. Menjauhi Pembicaraan Sia-Sia

Sebaiknya menghindari pembicaraan berujung kepada kesia-siaan dan dosa semata. “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh jaraknya dariku pada hari Kiamat adalah para penceloteh lagi banyak bicara.” (Riwayat at-Tirmidzi) .

4. Tidak Terperangkap Ghibah

Ghibah besar terjadi manakala kacamata yang kita pakai adala kacamata su’udzon pada setiap orang. Ada pameo kalau sudah jelek kita menilai sesuatu maka tertutuplah semua kebaikan sesuatu itu buat, padahal itu adalah sebuah kebenaran. Hati sempit , dunia sesak, ukhuwah retak manakala su’udzon menghiasi keseharian kita.
“…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
(al-Hujurat [49]: 12).
Untuk melihat atau menilai sesuatu sangat gampang kita berkhusnudzon atau bersu’udzon. Khusnudzon berlandaskan pada kedekatan ia pada Robbnya dan keinginan baik untuk terus menggalang ukhuwah yang lebih wajib. Su’udzon dilandaskan pada bisikan syaithoniyah untuk menyatakan dirinya lebih baik dari saudaranya dan perasaan dengki melihat saudaranya lebih dari dirinya. Dengki itukan gampang pengertiannya. SMOS SMOS senang melihat orang susah atau susah melihat orang senang. Hati-hati ini awal mula ghibah terjadi.

5. Tidak Mengadu Domba

Hudzaifah Radhiyallahu anhu (RA) meriwayatkan, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

6. Tidak Berbohong

Gampang beralasan yang sebenarnya berawal dari kelalaian pribadi merupakan awal dari perkataan dusta dan memunculkan perdebatan. Sebenarnya gampang saja bagi kita yang pintar untuk membuat 1001 alasan dari kesuksesan atau kegagalan kita dalam melakukan sesuatu. Sering kali yang terselip dari banyaknya alasan yang kita buat adalah ketidakmampuan untuk mengakui bahwa diri ini salah. Padahal dalam terminologi berevaluasi dari suatu kejadian yang paling baik mulai dari bertanya pada diri, “adakah yang salah dari diriku ini”. “Pengakuan akan kekurangan diri bukan suatu aib namun merupakan suatu ketinggian ilmu”(Imam Syafi’i). Yang jelas namanya iman tidak bisa menipu apalagi membohongi.
“Sesungguhnya kejujuran itu mendatangkan kebaikan, dan kebaikan itu akan berujung kepada surga. Dan orang yang senantiasa berbuat jujur niscaya tercatat sebagai orang jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu mendatangkan kejelekan, dan kejelekan itu hanya berujung kepada neraka. Dan orang yang suka berbohong niscaya tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (Riwayat al-Bukhari).

7. Menghindari Perdebatan

Adakalanya kita tejebak dengan logika-logika kebenaran yang bersumber dari pikiran yang nampaknya benar namun terselip didalam hati pengakuan bahwa yang kita katakan adalah hal / ide terbaik dengan bisikan syetan “lihat dong ini ide gua mantapkan”. Sedapat mungkin menjauhi perdebatan dengan lawan bicara. Meskipun boleh jadi kita berada di pihak yang benar. Sebab Rasulullah SAW telah menjamin sebuah istana di surga bagi mereka yang mampu menahan diri. “Aku menjamin sebuah istana di halaman surga bagi mereka yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak untuk itu.” (Riwayat Abu
Daud, dishahihkan oleh al-Albani).

8. Tak Memotong Pembicaraan

Suatu hari seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah SAW, ia langsung memotong pembicaraan beliau dan bertanya tentang hari Kiamat. Namun Rasulullah tetap melanjutkan hingga selesai pembicaraannya. Setelah itu baru beliau mencari si penanya tadi. (Riwayat al-Bukhari)

9. Hindari Mengolok dan Memanggil dengan Gelar yang buruk

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) . Dan jangan pula
perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan yang lain. Karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok) itu. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain. Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujurat [49]: 11).

10. Menjaga Rahasia

“Tiadalah seorang Muslim menutupi rahasia saudaranya di dunia kecualiAllah menutupi (pula) rahasianya pada hari Kiamat.” (Riwayat Muslim).
[Sahid/www.hidayatu llah.com]

Yusuf Qorhdawi dalam bukunya mensufikan salafi dan mensalafikan sufi mengutip pernyataan ibnul qoyyim Al-jauziah menuliskan
– apabila para mujahid menjadikan hujjah atas keutamaan kelompok mereka, para ulama juga bisa menggunakannya untuk hal yang serupa.
– apabila orang miskin yang sabar menjadikannya hujjah atas keutamaan kelompok mereka, orang kaya yang bersyukur juga bisa menggunakannya untuk hal yang sama.

Orang yang paling berhak terhadap Rasulullah Muhammad adalah yang paling tahu dan konsisten menjalankan sunnahnya(Ibnul Qoyyim)

Jadi ketika kita mempunyai suatu ide yang berlandaskan kebenaran(al-qur’an dan sunnah) yang kita yakini, mari kita laksanakan dan konsisten dengan itu.

wasari’u ila fastabiqul khoirot biidznillah – mari bersegera berlomba-lomba dalam kebaikan dengan izin ALLAH Swt-.

Semoga bermanfaat!!!(APP)

Iklan

Aksi

Information

3 responses

18 02 2010
Nisa adzkiya

tertarik dgn bahasannya, boleh request tentang bku yusuf qardhawi mensufikan salaf dan mensalafkan sufi.

21 02 2010
Mechanical Islamic Community

terima kasih atas requestnya. Insya Allah, jika diberi kesempatan oleh Allah kami akan membahas buku tersebut.

26 02 2010
Icun

Sangat inspiratif..terlebih bagi saya yang sedang belajar untuk khusnudzon..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: